Apotek-Doktor-S-yang-ternyata-seorang-ustadz-laris-manis-dan-populer-di-kalangan-penduduk-desa

Selama kurang lebih 5 tahun atau sejak tahun 2015, toko obat milik pria bernama “Dokter S” ini menjadi fokus pengobatan warga di Desa Dayu, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Karena populer di kalangan penduduk desa, toko obat itu penuh sesak dengan penduduk.

Apotek-Doktor-S-yang-ternyata-seorang-ustadz-laris-manis-dan-populer-di-kalangan-penduduk-desa

Kini S, pemilik toko obat, ditangkap polisi tanpa izin karena dicurigai melakukan praktik kedokteran

dan menjual narkoba.

Baca juga: Pembuatan dan Penjualan Obat Tanpa Resep Dokter, Sarjana Pendidikan Agama Islam Ditangkap Polisi

Salah satu pelanggan apotek, warga Desa Kemloko bernama Imron, 32 tahun, mengatakan apotek S menjadi andalannya untuk obat asam urat yang dideritanya dengan harga murah dan efektif.

“Wah, ini toko langganan saya beli obat asam urat. Setiap kali kambuh, saya beli di toko.

Obatnya murah dan manjur,” kata Imron, yang berbicara pada Rabu (Jan). oleh Kompas.com di kota Blitar/5/2021),

“Minggu lalu saya membeli dua ‘set’ (paket). Saya hanya mengambil satu ‘Stel’ dan sembuh,” katanya sambil menunjukkan obat yang terdiri dari tiga tablet merah, putih dan kuning.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Tidak hanya untuk serangan asam urat, katanya, saat mengalami demam karena gejala flu

, juga datang ke S.

Imron menilai wajar jika apotek S laris manis karena situasi kesehatan yang tidak menentu dan iklim ekonomi masyarakat yang semakin sulit sejak pandemi Covid-19.

Baca juga: Tangkap Sapi yang Dicuri dan Disembelih, Begini Reaksi Pria NTT

Ilustrasi polisi KOMPAS.com/NURWAHIDAH Ilustrasi polisi
Ipda Puspa Anggita Sanjaya, Kepala Satuan Khusus Polres Blitar, memuji popularitas apotek SS di kalangan masyarakat Desa Dayu dan sekitarnya.

Apotek S, kata Puspa, setiap hari dipadati orang untuk berobat, padahal warung yang tak jauh dari pasar desa itu kecil dan berbangunan sederhana.

Pada waktu-waktu tertentu, terutama malam hari, antrian warga yang datang berobat bisa mencapai belasan orang.

“Kalau sudah penuh, S menelpon ke nomor 3 sampai 5 orang sekaligus lalu menanyakan gejalanya apa. Dia mencatat, lalu kembali minum obat,” ujarnya.

Baca Juga: Terungkap Ini Motif Majikan Menyiksa Anggota Rumah Tangga dan Memaksa Makan Kotoran Kucing

Menurut polisi, dua faktor yakni harga yang murah dan keefektifan minuman S menjadi alasan dijualnya toko obat S tersebut.

Selain itu, kata dia, apotek tersebut berada di ujung utara Kabupaten Blitar yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota.

Setiap hari, kata Puspa, tak kurang dari 75 orang datang ke toko S, yang sering disebut “Dokter S”, untuk berobat.

Kapolres Kota Blitar AKBP Yudhi Hery Setiawan mengatakan penjualan apotek S berkisar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per hari.

Baca juga: Eri Cahyadi Bakal Berkantor di 154 Kelurahan di Surabaya, Ada Apa?

Ilustrasi obat Shutterstock
Untung Rp 100.000 sd Rp 200.000

Meski penjualannya bisa mencapai Rp 2 juta per hari, S mengaku hanya menghasilkan antara Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per hari.

Keuntungan tersebut, kata S, tidak dipotong dari biaya operasional, selain biaya pembelian obat sediaan.

Saat dipresentasikan dalam konferensi pers tentang penemuan kasus di Polres Kota Blitar, S juga berusaha menghindari tuduhan tentang praktik medis tersebut.

“Saya hanya jual narkoba, mas, Rp 2.500. Saya hanya jual narkoba,” ujarnya kepada wartawan yang dimintai keterangan.

S mengatakan bahwa ia belajar secara otodidak dalam membuat obat dan bekerja sebagai asisten dokter dari tahun 1997 hingga 2011.

LIHAT JUGA :

pcpm35rekrutmenbi.id
indi4.id
connectindonesia.id